Sarambang.id – Sepasang mata menyaksikan hiruk pikuk kota dengan kondisi jalan raya dilalui ribuan kendaraan berlalu lalang. di sela deretan mobil itu, ada kendaraan yang hanya mengeluarkan suara dengung halus saat berjalan.
Emblem bertuliskan EV pada bodi kendaraan itu terlihat, tak hanya satu atau dua. kendaraan dengan tanda EV mulai banyak melintas di depan mata. ini adalah contoh nyata bahwa saat ini, seluruh dunia berbondong-bondong menuju transisi energi seiring perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Termasuk dunia otomotif dari tahun ke tahun. Transisi energi ini menjadi misi bersama yang bertujuan mengurangi emisi karbon secara global.
Berbagai produsen mobil ternama yang sebelumnya gencar memproduksi kendaraan berbahan bakar fosil, kini beralih memproduksi kendaraan listrik (EV) yang tetap handal beroperasi secara optimal meski menggunakan energi bersih dan rendah emisi.
Kehadiran EV menjadikan baterai sebagai salah satu komponen penting. Sekaligus mendorong terjadinya lonjakan kebutuhan dan permintaan terhadap baterai sebagai sumber energi utama pada kendaraan ini.
Nikel sebagai bahan baku pembuatan baterai secara otomatis menjadi primadona di pasar global. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia sebagai salah satu pemilik cadangan nikel terbesar di dunia.
Hilirisasi menjadi jawaban atas tantangan ini dengan cara mendorong perusahaan tambang di seluruh Indonesia agar mengolah nikel menjadi produk bernilai tambah.
Hilirisasi menekankan penerapan konsep dengan pertimbangan meningkatkan nilai ekonomi termasuk pada hasil tambang, menjadi peluang terciptanya lapangan kerja baru, Industri turunan, Transfer teknologi, Investasi, dan pastinya berdampak pada pendapatan daerah.
Di sektor pertambangan dan mineral, wujud kebijakan ini tak hanya berfokus pada peluang meningkatnya nilai tambah pendapatan, namun juga menekankan konsep berkelanjutan yang justru menjadi tantangan agar perusahaan tambang bijak dan bertanggungjawab di setiap operasional dengan tetap memperhitungkan aspek lingkungan untuk generasi selanjutnya
Di tengah tekanan kebutuhan nikel dunia, mampukah perusahaan pertambangan melirik peluang sekaligus menjawab tantangan hilirisasi tanpa mengorbankan lingkungan?
Di Timur Indonesia, tepatnya di Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, berdiri sebuah perusahaan tambang nikel PT Vale (INCO) yang beroperasi dan menambang sejak tahun 1968.
58 tahun di Sorowako, Vale hingga saat ini berkembang sebagai pelopor pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi yang diakui di Indonesia.
Sorowako menjadi salah satu tempat kekayaan mineral indonesia, di perut bumi daerah ini terdapat hamparan nikel berkualitas tinggi yang menjadi denyut utama industri pertambangan PT Vale indonesia Tbk selama hampir enam dekade.
Sejak pertama menambang, Vale telah memenuhi jutaan ton kebutuhan nikel dunia. Sehingga Vale dianggap salah satu perusahaan tambang yang ikut menopang posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam industri nikel global.
Komitmennya dalam menerapkan praktik pertambangan berkelanjutan juga tidak diragukan lagi, deretan penghargaan dan pencapaian nasional hingga global menjadi bukti bahwa perusahaan ini tidak main-main soal konsep keberlanjutan.
Danau Matano di Sorowako menjadi gambaran bagaimana PT Vale melakukan praktik pertambangan dengan konsep keberlanjutan. Warisan alam ini tetap terjaga meski hampir enam dekade berdampingan dengan tambang.
Kekaguman akan Danau Matano datang dari berbagai kalangan, termasuk Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Siti Sumilah Rita Susilawati, saat melakukan kunjungan bersama sepuluh duta Minerba di Site PT Vale Blok Sorowako pada desember 2025.
“Semuanya tertib, dan yang Amaze (luar biasa) itu adalah danaunya jernih sekali airnya, padahal tambangnya sangat dekat dengan danau. proses PT Vale dalam menata lingkungan itu sangat ketat begitu juga yang lainnya sangat teratur dan tertib” ungkap Siti Sumilah.
Kualitas air sebening kristal, ekosistem hingga keberadaan hewan endemik Danau Matano menjadi saksi atas komitmen hijau perusahaan yang hingga detik ini masih diterapkan dalam proses pertambangan sebagai bentuk tanggungjawab Vale.
Komitmen menerapkan konsep pertambangan berkelanjutan, Vale menjawab tantangan hilirisasi dengan menghadirkan tiga mega proyek strategis yang dikembangkan di beberapa wilayah di Sulawesi dengan nilai investasi mencapai Rp147 Triliun.
Indonesia Growth Project (IGP) adalah tiga proyek strategis PT Vale berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL) yang bertujuan untuk memproduksi nikel mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan utama baterai kendaraan listrik.
Proyek IGP Pomalaa
berada di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, dengan nilai Investasi PT Vale untuk tambang dan fasilitas HPAL mencapai US$ 4,5 miliar.
Pada awal 2026, IGP Pomalaa mencatatkan penjualan perdana bijih nikel limonit, menandai transisi proyek dari tahap konstruksi menuju fase operasional yang mulai menghasilkan pendapatan.
Proyek IGP Morowali
merupakan proyek pengembangan nikel terintegrasi yang berlokasi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Dengan nilai investasi sekitar US$2 miliar, proyek ini dibangun di kawasan industri dengan energi hijau, dirancang untuk menjadi net-zero operation.
Progres pembangunan infrastruktur IGP Morowali telah mencapai 99 persen, sementara pembangunan fasilitas pengolahan HPAL telah mencapai progres sekitar 27 persen. Proyek ini ditargetkan beroperasi secara bertahap pada periode 2026 hingga 2027.
Sepanjang tahun 2026, proyek IGP Morowali mulai mencatatkan kinerja yang baik melalui penjualan sekitar 2,2 juta ton bijih nikel (ore).
“Tentunya capaian progres proyek yang sangat baik ini tidak dapat terwujud tanpa dukungan seluruh pihak, khususnya Pemerintah Kabupaten Morowali dan jajaran Forkopimda. Kami berharap kemitraan strategis ini dapat terus berjalan dan semakin memperkuat kontribusi sektor hilirisasi bagi pembangunan daerah,” ujar Presiden Direktur & CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto dalam kegiatan buka puasa bersama pemerintah Kabupaten Morowali, 10 Maret 2026.
Proyek IGP Sorowako Limonite (Sorlim)
PT Vale memperkuat kolaborasi dengan berjalan bersama Huayou untuk membangun pabrik pengolahan nikel berteknologi HPAL di Sorowako, Sulawesi Selatan. Kerja sama itu dimulai pada awal 2022 melalui studi kelayakan kemudian ditandai dengan penandatanganan Heads of Agreement.
Di akhir Maret 2026, progres konstruksi proyek ini telah mencapai 43 persen, menandai kemajuan signifikan dan mulai menyusul progres dua proyek IGP lainnya yakni IGP Pomalaa dan Morowali.
Vale menegaskan bahwa proyek IGP merupakan investasi strategis yang dirancang untuk memperkuat ekosistem hilirisasi mineral nasional sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia.
Ketiga mega proyek ini dibangun di atas fondasi komitmen hijau PT Vale yang tidak diragukan lagi, berbagai manfaat keberadaan IGP menyentuh berbagai aspek yang memberikan manfaat baik dari sisi ekonomi, lingkungan dan sosial masyarakat dan daerah.
Berbagai manfaat ekonomi yang berawal dari nilai investasi jumbo hampir Rp147 Triliun.
Investasi dengan nilai besar yang masuk ke suatu daerah akan menjadi motor penggerak peningkatan ekonomi. Termasuk tiga wilayah Sulsel yang menjadi tempat dibangunnya proyek IGP. Menyerap hampir 5.000 tenaga kerja di tiga proyek hilirisasi tersebut, perusahaan lokal dilibatkan dan berpeluang menjadi mitra dalam proses pembangunan mega proyek ini.
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah dari sektor tambang (PAD), kemitraan strategis di berbagai sektor dengan perusahaan, pelaku UMKM, Penyedia jasa sewa rumah kos, bahkan pedagang di warung kelontong ikut merasakan dampak dari nilai investasi yang besar dengan keberadaan proyek hilirisasi di daerahnya.
Warga Desa Harapan, Kecamatan Malili, Hesti (42) adalah warga yang merasakan manfaat ekonomi yang positif atas keberadaan proyek hilirisasi PT Vale IGP Sorowako Limonite (Sorlim).
Sebagai pengusaha sewa rumah kos, Hesti tak menyangka keberadaan dari proyek tersebut menjadi awal dari ladang rezekinya. Delapan kamar kos yang dulunya hanya terisi satu atau dua orang, kini terisi penuh oleh karyawan dari perusahaan yang bekerjasama dengan PT Vale dalam pembangunan IGP Sorowoko.
“Sekarang semua kamar terisi, mereka katanya tenaga kerja pendukung proyek sorlim di sorowako, tapi mereka di tempatkan bekerja di sini (Desa Harapan)” ungkapnya kepada sarambang.id, sabtu 11 Juli 2026.
Tak hanya dampak ekonomi, hilirasi yang dibangun dengan fondasi keberlanjutan tentu akan menguntungkan dari aspek sosial.
Berbagai macam dukungan PT Vale terhadap pemerintah daerah melalui program PPM dan CSR adalah bukti positif di aspek sosial. Miliaran dana segar dikucurkan untuk fasilitas pendidikan seperti pengadaan bus, fasilitas kesehatan seperti pembangunan rumah sakit, dan pembangunan fasilitas umum.
Sepanjang tahun 2025, PT Vale mengalokasikan 4,73 juta US Dollar untuk pengembangan masyarakat, dengan fokus pada pendidikan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan infrastruktur dasar, didukung komposisi keterlibatan tenaga kerja lokal serta peningkatan keterwakilan perempuan di perusahaan.
Sementara dalam aspek lingkungan, setiap proses tambang PT Vale terselip komitmen kuat dan memperhitungkan setiap prosesnya untuk tidak hanya mengeruk nikel dari perut bumi. Prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) menjadi panduan Vale dalam menjalankan operasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan dengan fokus pada pertimbangan lingkungan, sosial dan tata kelola.
PT Vale bahkan berupaya melampaui kepatuhan ESG yang meluas hingga mengoptimalkan manfaat bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat luas, memprioritaskan metrik kinerja dan menerapkan mekanisme yang ketat untuk peningkatan berkelanjutan di semua aspek bisnis.
Ini menjadikan pendekatan PT Vale berbeda dengan perusahaan lain. Vale bahkan makin memperkuat dedikasi untuk mencapai keunggulan dalam praktik ESG.
Dibuktikan oleh catatan perjalanan ESG PT Vale yang menguat sepanjang 2025, peningkatan investasi lingkungan yang mendorong percepatan dekarbonisasi, efisiensi energi, serta rehabilitasi ratusan hektare lahan pascatambang di Sorowako serta pemulihan 2.988 hektare daerah aliran sungai di lima provinsi.
Dari sisi tata kelola, Vale mencatat peningkatan skor risiko keberlanjutan (ESG Rating) yang mencerminkan penurunan eksposur risiko ESG yang signifikan, serta meraih ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) sebesar 99,53.
Capaian tersebut menegaskan penguatan praktik transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan perusahaan, sekaligus menjadi fondasi bagi pengembangan proyek strategis Indonesia Growth Project (IGP) di Sorowako, Pomalaa, dan Morowali untuk mendukung hilirisasi nikel dan transisi energi Indonesia.
Hilirisasi akan dikenang bukan karena banyaknya nikel yang berhasil diolah, melainkan karena sejauh mana proses pertambangan itu mampu menghadirkan nilai tambah tanpa mengorbankan lingkungan dan masyarakat.
Dari Sorowako, PT Vale menjejaki perjalanan itu dengan tetap menunjukkan bahwa sumber daya alam dapat menjadi warisan yang terus memberi manfaat ketika dikelola dengan tanggung jawab.
Danau Matano yang tetap jernih menjadi pengingat bahwa hilirisasi tidak hanya tentang nilai ekonomi, tetapi juga tentang warisan lingkungan. (*)
