LUWU TIMUR – Di Desa Wanasari, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur, literasi tidak hanya berlangsung di antara rak-rak buku.
Pengetahuan yang diperoleh warga dari perpustakaan desa perlahan dibawa ke ruang yang lebih luas: lahan pertanian.
Dari sana, warga belajar mengenal budi daya melon dan semangka. Pengetahuan yang awalnya hadir melalui kegiatan literasi kemudian berkembang menjadi keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi keluarga.
Potret inilah yang terlihat dalam program Kampung Pangan Adhyaksa di Desa Wanasari, sebuah program binaan Kejaksaan Negeri (Kejari) Luwu Timur.
Perkembangan program tersebut dikunjungi Komunitas Pegiat Literasi (KOMPLIT) Luwu Timur bersama perwakilan Kejari Lutim, Kamis (24/9/2026).
Program itu bermula dari kegiatan di perpustakaan desa. Warga tidak hanya mendapatkan akses terhadap bahan bacaan, tetapi juga diperkenalkan pada pengetahuan dan keterampilan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Salah satunya melalui pelatihan budi daya melon dan semangka.
Pengetahuan tersebut kemudian dicoba melalui lahan percontohan yang berada di halaman Kantor Desa Wanasari.
Kepala Desa Wanasari, Wayan Sardika, mengatakan dari lahan percontohan itulah muncul gagasan untuk mengajak lebih banyak warga mengembangkan tanaman hortikultura tersebut.
“Awalnya kami menanam melon di pekarangan kantor desa. Saat panen tiba, kami menilai ini sangat menjanjikan bagi masyarakat, sehingga kami mulai mengedukasi dan mengajak warga menanam melon dan semangka,” ujar Wayan Sardika.
Apa yang bermula dari lahan percontohan kemudian berkembang. Warga mulai melihat peluang bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar dapat diterapkan menjadi kegiatan produktif.
Petani yang mengikuti program tersebut disebut dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp30 juta hingga Rp80 juta dalam satu siklus tanam yang berlangsung kurang lebih dua bulan.
Sejumlah petani juga disebut telah merasakan manfaat ekonomi dari budidaya melon dan semangka tersebut.
Bagi Wanasari, pengalaman ini memperlihatkan wajah lain dari literasi. Perpustakaan desa tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Di titik inilah literasi inklusi sosial menemukan bentuknya. Masyarakat dilibatkan, diberi ruang untuk belajar, kemudian didorong memanfaatkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
KOMPLIT Luwu Timur menyebut kunjungan tersebut sebagai bagian dari upaya melihat secara langsung dampak program literasi yang terhubung dengan pemberdayaan masyarakat dan ekonomi warga di desa binaan kejaksaan.
Di Wanasari, proses itu berjalan dari ruang perpustakaan menuju lahan pertanian.
Buku menjadi pintu masuk. Pengetahuan menjadi bekal. Dan lahan menjadi ruang bagi warga untuk mencoba, mengembangkan, sekaligus melihat nilai ekonomi dari apa yang mereka pelajari.(*)
