Sarambang.id- Berawal dari halaman kantor desa, buah melon kini mulai menjadi komoditas yang menjanjikan bagi warga Desa Wanasari, Kecamatan Angkona, Luwu Timur.
Kepala Desa Wanasari, Wayan Sardika, mengatakan awalnya warga lebih mengandalkan pertanian sawah. Namun setelah melihat hasil budidaya melon, sejumlah warga mulai mencoba menanamnya di pekarangan hingga berani mengalih fungsikan sebagian lahan sawah mereka
“Awalnya kita coba-coba di halaman depan kantor desa. Setelah melihat hasilnya, baru masyarakat mulai tertarik untuk belajar menanam melon,” kata Wayan, Kamis (24/9/2026).
Salah satu petani, Nilo Devi, kini mengelola lahan 25 are dengan sekitar 2.300 pohon melon. Dalam satu siklus tanam sekitar 60 hari, ia menyebut hasil kotor dari lahannya bisa mencapai Rp50 juta.
“Sekali panen, dengan siklus tanam sekitar 60 hari, penghasilan kotor dari lahan 25 are itu bisa sampai Rp50 juta,” katanya.
Namun budidaya melon bukan tanpa tantangan. Nilo Devi mengungkapkan, sebelumnya ia sempat mengalami kegagalan saat pertama terjun sebagai petani melon.
Namun kegagalan itu justru menjadi motivasi tersendiri dan mencoba menanam kembali di lahan yang berbeda.
“Waktu itu sempat gagal saat pertama kali menanam, mungkin karena kualitas lahan yang kurang cocok untuk melon” ujarnya.
Sementara kata Wayan, meski tingkat kegagalannya minim, Petani masih akan diperhadapkan dengan masalah seperti hama tikus dan lalat hingga penyakit jamur.
“Tapi semua itu masih bisa dikendalikan, kecuali hama tikus. olehnya itu, ada waktu-waktu tertentu petani melon tidak menanam karena hama tikus” bebernya.
Namun semua itu bukan menjadi penghalang dan menurunkan semangat bagi petani desa Wanasari. Manisnya cuan dari hasil komoditi ini ternyata juga berkat peran BUMDes Wanasari.
BUMDes ini menjadi ujung tombak yang menyulap buah menjadi Rupiah, dimana awalnya para petani masih kebingungan akan dipasarkan kemana buah-buah melon ini pasca dipanen.
Di tengah tantangan itu, BUMDes hadir berkat koordinasi Kejari Luwu Timur dan Pemerintah desa dalam Program Pendampingan Kampung Pangan Adhyaksa, dimana desa Wanasari termasuk salah satunya.
Hingga saat ini, Desa yang menjadi desa Binaan Kampung Pangan Adhyaksa ini mengambil peran penting sebagai mitra petani, dimana hasil panen buah melon petani ini dibeli langsung oleh BUMdes.
Hasil panen melon Wanasari kini dipasarkan hingga ke Makassar, masuk dalam program Dapur MBG, dan sempat menembus jaringan ritel modern
Tak hanya itu, kehadiran BUMDes ini turut membantu dalam menyediakan bibit dan pupuk, memberikan modal tanpa bunga bagi warga yang ingin menanam melon.
“Jadi Bumdes menyediakan bantuan untuk petani mulai dari bibit melon, pupuk, dan menjamin pasaran buah melon petani setelah panen,” ujar Wayan.
Untuk diketahui, perkembangan budidaya melon tersebut menjadi bagian dari Program Kampung Pangan Adhyaksa yang didampingi Kejaksaan Negeri Luwu Timur.
Kepala Subseksi I Intelijen Kejari Luwu Timur, Andi Muhammad Ryas Yunus, mengatakan pendampingan tidak hanya menyasar sektor pertanian, tetapi juga tata kelola pemerintahan desa.
“Kejaksaan bukan hanya hadir dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga sebagai lembaga mitra yang mengawal cita-cita presiden dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya melalui pendampingan khusus pada Kampung Pangan Adhyaksa ini,” kata Ryas saat meninjau Desa Wanasari.
Kejari turut memfasilitasi koordinasi pemerintah desa dengan pemerintah daerah hingga kementerian, sekaligus memberikan edukasi terkait administrasi, pengelolaan anggaran dan aset desa.
“Semua pendampingan ini dilakukan agar tata kelola administrasi berjalan baik, yang pada akhirnya membawa dampak positif bagi kemajuan desa dan kesejahteraan petani,” ujarnya.(*)
