DPRD Lutim Siap Kawal Aspirasi Warga Angkona

Persoalan yang dihadapi masyarakat Kecamatan Angkona tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh kualitas layanan dasar dan pengelolaan potensi ekonomi masyarakat.

Beragam kebutuhan tersebut mengemuka dalam dialog terbuka antara Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan masyarakat Angkona yang digelar di halaman Rumah Jabatan Camat Angkona, Jumat malam (11/9/2026).

Anggota Komisi III DPRD Luwu Timur dari Fraksi NasDem, Muhammad Iwan, yang hadir mendampingi Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam, secara khusus mencatat sejumlah aspirasi warga untuk dikawal melalui fungsi legislatif.

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah kondisi rumah dinas dokter dan selasar Puskesmas Angkona yang disebut kerap terdampak banjir. Persoalan tersebut dinilai berkaitan langsung dengan kenyamanan fasilitas kesehatan sekaligus pelayanan kepada masyarakat.

Di sektor pertanian, warga juga menyampaikan kebutuhan lainnya menyangkut tata kelola penyerapan hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat, yang menjadi salah satu bagian penting dari aktivitas ekonomi warga Angkona.

“Semua aspirasi yang disampaikan masyarakat akan kami catat dan kawal melalui pembahasan di DPRD, termasuk berkoordinasi dengan OPD terkait,” ujar Muhammad Iwan.

Menurutnya, forum dialog tidak boleh berhenti sebatas penyampaian keluhan. Setiap persoalan yang menjadi kewenangan pemerintah perlu diterjemahkan menjadi program dan kebijakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Selain persoalan infrastruktur dan ekonomi, aspirasi dari sejumlah organisasi masyarakat dan keagamaan, seperti PGRI, Prajaniti, dan WHDI, turut menjadi bagian dari catatan yang akan diperjuangkan.

Muhammad Iwan menilai sinergi antara DPRD dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam memastikan aspirasi masyarakat memperoleh tindak lanjut.

Ia menegaskan, fungsi pengawasan dan penganggaran DPRD akan diarahkan untuk memastikan kebutuhan masyarakat yang telah disampaikan memiliki ruang dalam pembahasan program pembangunan daerah.

Dengan demikian, dialog bersama warga Angkona diharapkan tidak hanya menjadi ruang menyampaikan persoalan, tetapi menjadi titik awal untuk mendorong penyelesaian sejumlah kebutuhan yang selama ini dirasakan langsung masyarakat.