Sorowako – Pagi itu, tepatnya Selasa 28 Juli 2026 dan waktu menunjukkan pukul 06.00. Sinar tipis matahari di tepian danau perlahan menampakkan wajah dan menyambut puluhan jurnalis peserta kegiatan Upskilling dan Site Visit PT Vale yang sedang menunggu di lobi Hotel Mireya Sorowako.
Tampak pula di simpang jalan di depan hotel itu, sebuah bus bertenaga listrik dengan logo PT Vale yang ternyata menjadi kendaraan yang akan mengantar puluhan jurnalis menuju agenda visit selanjutnya.
Kursi-kursi bus mulai terisi penuh. Di bagian depan terpampang layar digital bertuliskan dengan huruf berwarna merah “Safety Always”. Dan makna tulisan itu dipertegas dengan tidak adanya perjalanan hari itu kecuali dengan sabuk pengaman yang terpasang kokoh di seluruh penumpang.
Bus elektrik itu kini mulai melaju tenang tanpa sedikit pun memecah kesejukan udara Sorowako di pagi itu. Di sepanjang perjalanan, penumpangnya tak sekali pun melepaskan pandangan dari jendela yang menyuguhkan pepohonan, suasana yang tenang dan bersih, hingga barisan rumah yang tertata rapi.
Bus kini terhenti yang menandakan telah tiba di tempat tujuan. Puluhan jurnalis berbaris rapi turun tepat di pinggir danau di salah satu fasilitas PT Vale yang bernama Yacht Club di Sorowako. Di tempat itu, dua buah kapal jenis Raft tengah menunggu para jurnalis untuk diajak berkeliling menikmati keindahan Danau Matano yang merupakan salah satu ikon penting dan destinasi wisata Luwu Timur.
Danau Matano merupakan rumah bagi berbagai jenis ikan air tawar, termasuk ikan endemik, yaitu ikan Buttini. Danau ini merupakan terdalam se-Asia Tenggara dan terletak di Sorowako, Kecamatan Nuha, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Puluhan jurnalis duduk rapi. Raft mulai menjauh dari daratan, memecah ombak-ombak kecil dan melaju di atas danau yang jernih dan tetap terjaga. Angin sejuk menyapa, pemandangan sekeliling pun tak mau kalah dengan menyuguhkan barisan gunung-gunung yang memanjakan mata.

Sementara di bawah permukaan, siluet bebatuan menembus jernihnya danau hingga ke permukaan. dan sesekali memperlihatkan ikan-ikan kecil.
Tak terasa hampir dua jam mata dimanjakan pesona keindahan alam Danau Matano, kapal pun kembali menepi ke daratan, semua penumpang kembali menginjakkan langkahnya ke darat dengan pertanyaan besar tentang PT Vale dan Danau Matano.
Bagaimana PT Vale menambang selama hampir enam dekade berdampingan dengan danau, namun tetap mempertahankan kejernihan air dan ekosistem danau yang tetap lestari?.
Meninggalkan Yacht Club, bus kembali bergerak membawa puluhan jurnalis ke lokasi selanjutnya dalam agenda site visit itu. bus itu berjalan dipenuhi oleh kepala yang berisi pertanyaan yang sama tentang danau Matano.
Tak jauh dari tempat sebelumnya, bus kini terhenti tepat di kawasan PT Vale Indonesia di Blok Sorowako, tepatnya di Lamella Gravity Settler (LGS). Di sini terdapat jawaban dari pertanyaan tentang kualitas air dan eksosistem Danau Matano yang tetap terjaga. Dan ternyata berkaitan dengan peran LGS.
Puluhan awak media spontan mengangkat kamera ingin menangkap gambaran LGS, sayangnya langkah mereka tertahan untuk tetap berada di dalam bus karena ketatnya aturan keselamatan yang diterapkan PT Vale. setiap pengunjung site PT Vale, termasuk di LGS diwajibkan mengenakan APD lengkap seperti helm, rompi, hingga sepatu safety.
Tak lama menunggu, dua orang ber APD lengkap menghampiri dan naik ke Bus dan berdiri tepat dihadapan barisan puluhan awak media. keduanya adalah Andi Burhanuddin (Supervisor Hydrology and Compliance PT Vale Indonesia), dan Aris Kallolangi (Supervisor Mine Infrastruktur PT Vale Indonesia).
Dari penjelasan keduanya, diketahui bahwa LGS adalah perpaduan teknologi canggih dan komitmen hijau PT Vale yang memiliki peran penting dalam mendukung kualitas Danau Matano yang hingga saat ini masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat.
Di hadapan para jurnalis, Aris Kallolangi menjelaskan bahwa teknologi LGS mampu memisahkan padatan dengan sangat cepat dan efisien sehingga air yang keluar akan sangat jernih dan memenuhi standar baku mutu yang ketat.
“Terdapat lebih dari 100 kolam pengendapan (Settling Pond) yang bekerja dengan cara menampung air limpasan hujan dari area tambang dan melewati ratusan kolam pengendapan itu sebelum menyentuh danau” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Andi Burhanuddin menambahkan bahwa sebelum dialirkan ke danau, PT Vale memantau rutin setiap tetes air yang ada di LGS melalui laboratorium independen terakreditasi standar internasional (IPHA) untuk memastikan kadar Total Suspended Solids (TSS) dan Kromium Valensi 6 (Cr6+) akan tetap berada jauh di bawah ambang batas regulasi Permen LH Nomor 9 Tahun 2006.
Selain itu, alasan mengapa ekosistem danau Matano tetap terjaga hingga saat ini adalah penerapan sistem SWAP (Steam, Water, Air and Power) secara online diterapkan PT Vale di LGS untuk memantau jalur distribusi air daur ulang pabrik dan mencatatnya secara real time.
“Semua teknologi dan sistem pemantauan itu diterapkan untuk memastikan danau matano tetap jernih sebening kristal dan ekosistem danau yang tetap terjaga hingga di masa depan” tambahnya.
Inilah alasan mengapa Danau Matano sang danau purba dan terdalam se-Asia Tenggara itu tetap memesona dari segi kualitas, ekosistem, hingga sisi pemanfaatannya sebagai sumber daya air masyarakat setempat.
LGS tak hanya sekadar kolam-kolam pengendapan. Di sana ada teknologi canggih yang dibalut dengan komitmen kuat PT Vale untuk terus menjaga keberlangsungan kehidupan di sekitar area pertambangan.
Dari PT Vale kita belajar bahwa indikator keberhasilan tak hanya diukur dari seberapa banyak nikel yang berhasil diolah. Nilai sebenarnya adalah ketika pertambangan mampu menjaga komitmen untuk tetap mengolah sumber daya alam tanpa mengorbankan lingkungan.
Dari Sorowako, PT Vale menjejaki perjalanan itu selama 58 tahun dengan tetap menunjukkan bahwa sumber daya alam dapat menjadi warisan yang terus memberi manfaat ketika dikelola dengan tanggung jawab.
Keindahan Danau Matano menjadi pengingat bahwa keberadaan PT Vale Indonesia tidak hanya tentang nilai ekonomi, tetapi juga tentang warisan lingkungan, untuk kita, saat ini, hingga di masa yang akan datang. (*)
