Inovasi yang lahir dari ruang-ruang praktik dan laboratorium Politeknik Sorowako kini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Melalui program hibah Teknologi Tepat Guna (TTG), kampus vokasi tersebut secara konsisten menyalurkan berbagai mesin hasil karya tugas akhir mahasiswa kepada kelompok tani, UMKM, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kabupaten Luwu Timur.
Program ini menjadi bukti bahwa tugas akhir mahasiswa tidak hanya berhenti sebagai syarat kelulusan, tetapi berkembang menjadi solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.
Beragam mesin yang dirancang mahasiswa disesuaikan dengan kondisi lapangan dan mampu membantu meningkatkan produktivitas, mengurangi beban kerja, sekaligus menekan biaya operasional para pelaku usaha di sektor pertanian, perkebunan, hingga perikanan.
Luwu Timur selama ini dikenal memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan selain industri pertambangan. Namun, keterbatasan akses terhadap teknologi menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi petani maupun pelaku usaha kecil.
Kondisi inilah yang mendorong Politeknik Sorowako menghadirkan inovasi melalui karya mahasiswa yang dapat langsung diterapkan di tengah masyarakat.
Berbagai mesin yang telah dihasilkan memiliki fungsi yang beragam, mulai dari mesin perontok jagung, mesin pencacah pelepah sawit untuk kebutuhan pupuk maupun pakan ternak, mesin pengupas kopi, mesin pencuci lada, alat penyerbuk bunga cengkeh, hingga mesin pembuat pelet pakan ikan.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah mesin pembuat pelet ikan yang memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku utama. Selain membantu mengurangi populasi ikan invasif yang selama ini menjadi hama di sejumlah perairan, teknologi tersebut juga mampu menghasilkan pakan alternatif dengan biaya produksi yang lebih murah sehingga memberi keuntungan bagi para pembudidaya ikan.
Tidak semua pihak dapat menerima bantuan tersebut. Politeknik Soroako menerapkan sistem distribusi yang ketat agar manfaat mesin benar-benar dirasakan secara luas. Mesin hasil karya mahasiswa hanya disalurkan kepada kelompok masyarakat yang memiliki legalitas, seperti kelompok tani, UMKM maupun BUMDes, dan tidak diperuntukkan bagi penerima perorangan.
Kebijakan itu diterapkan untuk mencegah potensi komersialisasi pribadi terhadap aset hibah sekaligus memastikan mesin dimanfaatkan secara bersama-sama oleh anggota kelompok penerima.
“Kami mensyaratkan penerima hibah harus berbentuk kelompok, seperti UMKM atau BUMDes, bukan perorangan. Aturan ini penting agar manfaat teknologi dapat dirasakan bersama dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan individu,” jelas Direktur Politeknik Sorowako, Harjuma.
Saat ini, kata Harjuma, distribusi mesin masih didominasi wilayah yang berada di sekitar kampus, yakni Kecamatan Nuha, Towuti, dan Wasuponda. Meski demikian, pihak kampus menegaskan bahwa program tersebut terbuka bagi seluruh wilayah di Kabupaten Luwu Timur. Sejumlah kelompok masyarakat di Kecamatan Malili dan Tomoni juga mulai menerima manfaat dari program hibah tersebut.
Komitmen Politeknik Sorowako tidak berhenti pada penyerahan alat. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), kampus menjalankan sistem pendampingan berkelanjutan. Setiap mesin yang diserahkan telah melalui uji fungsi sebelum digunakan masyarakat dan dilengkapi dengan garansi.
Tim LPPM juga melakukan monitoring secara berkala setiap empat bulan untuk memastikan mesin beroperasi dengan baik. Jika ditemukan kerusakan teknis, tim akan melakukan perbaikan.
Sementara apabila alat diketahui tidak dimanfaatkan sesuai tujuan, pihak kampus berhak menarik kembali mesin tersebut untuk dialihkan kepada kelompok lain yang lebih membutuhkan.
Program hibah ini juga menjadi bagian dari indikator kinerja utama atau Key Performance Indicator (KPI) institusi. Setiap tahun Politeknik Sorowako menargetkan lahirnya sedikitnya lima unit mesin Teknologi Tepat Guna baru hasil inovasi mahasiswa yang siap diterapkan di tengah masyarakat.
Selain disalurkan kepada kelompok masyarakat, sebagian mesin juga dimanfaatkan sebagai sarana praktikum di lingkungan kampus. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat proses pembelajaran sekaligus mendukung rencana pengembangan Politeknik Soroako yang akan membuka dua program studi baru, yakni Teknik Instrumentasi dan Kontrol serta Teknik Alat Berat.
Melalui kolaborasi antara pendidikan vokasi, riset terapan, dan pengabdian kepada masyarakat, Politeknik Sorowako menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa tidak hanya menghasilkan nilai akademik, tetapi juga mampu menjadi solusi konkret dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian, perkebunan, perikanan, serta memperkuat perekonomian masyarakat di Kabupaten Luwu Timur.
Program ini sekaligus menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat berperan sebagai motor penggerak pembangunan daerah melalui teknologi yang sederhana, tepat guna, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.(*)
