PT Vale Mulai Lakukan Pendataan Dampak, Posko Pengaduan Resmi Dibuka di Towuti

Sarambang.id – Memasuki hari keempat pasca kebocoran pipa minyak di Desa Lioka, Kecamatan Towuti, PT Vale Indonesia Tbk menyatakan terus berupaya memulihkan dampak yang ditimbulkan. Perusahaan menegaskan fokus pada penghentian kebocoran, pemulihan lingkungan, dan perlindungan masyarakat terdampak.

Dalam siaran pers yang diterima, PT Vale menyebut telah membuka Posko Informasi dan Pengaduan di Kantor Camat Towuti sejak, Senin (25/8/2025).

Posko ini, menurut PT Vale, menjadi saluran resmi warga untuk menyampaikan laporan maupun kebutuhan di lapangan. Selain itu, perusahaan juga menyiapkan posko medis yang beroperasi 24 jam di Desa Lioka.

“Tim kami di lapangan bekerja tanpa henti, siang dan malam, karena kami percaya pemulihan hanya bisa terwujud dengan kebersamaan. Semoga dengan doa, kerja sama, dan semangat #BersamaUntukTowuti, kita bisa melewati ini dengan lebih kuat,” kata Endra Kusuma, Head of External Relations PT Vale Indonesia Tbk.

PT Vale menambahkan, perusahaan kini berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur untuk mendata lahan warga yang terdampak pencemaran minyak.

Sementara itu, Kepala Desa Baruga, Musafir Laeda, yang hadir dalam pertemuan dengan warga di kantor camat Towuti, mengajak semua pihak untuk menjaga koordinasi.

“Kalau pun sebelumnya ada komunikasi yang kurang baik karena kepanikan, saat ini sudah ada tempat pelaporan yang bisa menghubungkan semua pihak,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, PT Vale tak kunjung membeberkan data konkret terkait jumlah sawah dan luas lahan yang terdampak pencemaran minyak di Towuti, Senin 25/08/25.

Informasi yang beredar, PT Vale bersama tim yang dibentuk masih melakukan pendataan.

Lisye, salah satu warga terdampak pencemaran akibat tumpahan minyak di Towuti mengatakan hingga saat ini (hari ketiga), belum ada tim dari PT Vale yang datang melakukan pendataan.

“Belum ada, sawah saya luasnya sekitar 38 Hektare” Beber Lisye, kepada sarambang.id, senin 25/08/25.

Lisye mengaku, hingga hari ini, sawah yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarganya itu masih dibiarkan menjadi kubangan minyak hitam yang pekat.(Rif)