Sarambang.id – Pengklasifikasian dampak kebocoran pipa minyak PT Vale Indonesia Tbk, di Kecamatan Towuti, dinilai menyepelekan persoalan lingkungan serta kelestarian alam.
Direktur Belantara Indonesia, Zwaeb Laibe, PT Vale hanya mengklasifikasikan empat hal, terkait dampak kebocoran pipa tersebut, yakni sawah, empang, kebun, dan hewan ternak.
Ia mempertanyakan bagaimana dengan dampak tumpahan minyak terhadap alam dan lingkungan sekitarnya, terutama rawa di muara sungai dan di Danau Towuti yg didiami berbagai mahluk endemik
“Tak ada alasan PT Vale untuk mengabaikan persoalan ini, karena ini merupakan sumber mata pencaharian sebagian masyarakat, nelayan, dan sumber air minum masyarakat di delapan desa yg terdampak di Kecamatan Towuti” Ujar Zwaeb.
Menurutnya, tumpahan minyak di sungai menyebabkan pencemaran ekosistem perairan, perusakan habitat, dan membahayakan kehidupan laut serta manusia.
Dampaknya meliputi kematian hewan dan tumbuhan air, penurunan kualitas air minum, pencemaran tanah dan air tanah, serta gangguan rantai makanan.
“Kerusakan ini bisa bertahan lama, mempengaruhi kesehatan dan perekonomian lokal, serta mengurangi keanekaragaman hayati” Terangnya.
Sementara, PT Vale dalam siaran persnya mengatakan telah melibatkan tiga orang tim ahli dari HAS Environmental, Rabu (10/09.2025) dengan melalukan pemantauan kualitas air di kawasan Danau Towuti.
Pengambilan sampel dilakukan secara menyeluruh menggunakan standar metode ilmiah dan peralatan uji modern untuk memastikan hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sampel yang diambil mulai dari area sekitar dermaga, kemudian bergerak menuju bagian tengah danau, hingga ke area dekat muara sungai, termasuk pengambilan sampel air dari tangki air warga untuk memeriksa kualitas tangki yang digunakan warga.
“Kami menggunakan metode ilmiah yang tervalidasi dan peralatan modern untuk memastikan data yang kami peroleh akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, dengan cakupan lokasi yang beragam, hasil pemantauan ini akan menjadi rujukan penting dalam memastikan air tetap aman bagi lingkungan dan masyarakat,” jelas Tri Wisnu Febrianto, Rabu (10/9/2025).
Di sisi lain, upaya di darat juga terus berlangsung. Di titik 7, selama dua minggu terakhir, relawan bersama empat orang dari tim SAR, Batara Guru Rescue, Malili, tetap siaga dari pagi hingga sore hari untuk mendukung proses pembersihan pada area terdampak.
Sementara, Endra Kusuma, Head of External Relations PT Vale, mengatakan, langkah ini adalah wujud nyata untuk memastikan pemulihan yang tuntas dan berkelanjutan.
“Kami tidak hanya berfokus pada area yang terlihat, tetapi juga melangkah lebih jauh, sampai ke Danau Towuti, untuk memastikan tidak ada dampak yang luput dari penanganan. Kami percaya, dengan pendekatan berbasis ilmiah dan data yang akurat, kami dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat dan menjamin kelestarian lingkungan kita bersama.”ungkapnya.
Harapannya, proses ini tidak hanya mengembalikan kondisi lingkungan, tetapi juga membangun kembali rasa aman masyarakat secara menyeluruh.(Rif).
