Sarambang.id – Masyarakat Kabupaten Luwu Timur, khususnya di Kecamatan Malili mulai merasakan dampak serius dari lonjakan harga kebutuhan pokok, khususnya beras.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga beras melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp15 ribu per kilogram.
Kelangkaan pasokan beras memperburuk situasi, dengan banyak minimarket di Malili dilaporkan kehabisan stok.
Di Desa Harapan, Kecamatan Malili, harga beras bahkan lebih tinggi dan tembus hingga Rp18 ribu per kilogram, jauh melampaui harga rata-rata kabupaten.
Kenaikan ini memicu keresahan di tengah masyarakat yang selama ini menggantungkan kebutuhan pangan utamanya dari komoditas tersebut.
Kondisi ini diduga kuat berkaitan dengan tekanan inflasi yang meningkat di tingkat daerah, terutama menjelang semester kedua tahun 2025.
Pantauan Sarambang.id di lapangan, beberapa minimarket besar di Malili sepeeti indomaret dan alfamidi, tidak lagi menjual beras karena stok kosong.
Salah satu pegawai minimarket, Rosni mengaku belum tahu kapan beras akan kembali tersedia,
“Sudah beberapa kali mobil pengiriman barang datang ke toko, tapi sampai sekarang belum ada beras yang masuk,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (11/7/2025).
Pedagang di pasar tradisional, Harbia, juga menyebut bahwa harga beras mulai naik sejak tiga minggu terkahir.
“Awalnya Rp12 sampai 13 ribu per kilo, sekarang naik jadi Rp15 ribu, lagi susah beras pak,” ujarnya.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan dampak lebih luas terhadap daya beli masyarakat dan ketahanan pangan lokal.
Olehnya itu, masyarakat berharap Dinas Perdagangan Luwu Timur melakukan koordinasi dengan Bulog atau Disitributor, juga melakukan operasi pasar jika harga terus mengalami lonjakan.
Sebab, kenaikan harga beras sebagai komoditas strategis, berpotensi mendorong laju inflasi daerah ke level yang lebih tinggi dalam waktu dekat jika tidak segera ditangani.(*)
