Sarambang.id – Sawah petani di Desa Lioka, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, kini berubah menjadi kolam minyak.
Kebocoran pipa minyak milik PT Vale Indonesia Tbk kembali mencoreng wajah perusahaan tambang yang selama ini rajin mengumbar jargon keberlanjutan dan komitmen hijau itu.
Ironisnya, PT Vale yang baru tahun lalu meraih PROPER Emas (2024) dan sebelumnya PROPER Hijau (2023), justru kini berhasil memperlihatkan sawah petani yang tercemar, irigasi hitam pekat mirip oli kotor, dan ancaman gagal panen yang bisa berlangsung bertahun-tahun.
Sebagai informasi, syarat meraih PROPER Hijau dan Emas ini sangat ketat, perusahaan harus mampu mengendalikan pencemaran, mengelola limbah, menghemat energi, menjaga air, hingga menunjukkan tanggung jawab sosial.
Namun, kasus tumpahan minyak di Towuti memperlihatkan kebalikannya, pencemaran gagal dikendalikan, lahan produksi terancam rusak rusak, dan masyarakat jadi korban.
“Sudah tiga kali terjadi, dan yang sekarang ini paling parah,” keluh seorang warga Desa Lioka dalam rapat darurat digelar di Aula Kantor Camat Towuti, Sabtu (24/8/2025).
Warga membeberkan, kebocoran pipa minyak PT Vale bukan hal baru, peristiwa serupa pernah terjadi sekitar tahun 2000, saat itu, lahan sawah baru bisa kembali berproduksi empat tahun kemudian, pada 2004. Kini, dua dekade berlalu, petani Lioka harus menanggung derita yang sama.
“Dan sekarang kami kena lagi dampaknya,” ujar warga tersebut.
Rapat darurat itu dihadiri External PT Vale, BPBD Luwu Timur, Dinas Sosial, serta Ketua dan Anggota Komisi III DPRD Luwu Timur, Sejumlah masyarakat dan petani korban tumpahan minyak juga hadir.
Untuk diketahui, sebelumnya, dalam penanganan insiden tumpahan minyak di Towuti pada Sabtu, 23/08/25, PT Vale melakukan sejumlah upaya sebagai bentuk penanganan.
Head of Corporate Communication PT Vale Indonesia, Vanda Kusumaningrum, memgatakan, sejak menerima laporan awal, PT Vale langsung mengaktifkan prosedur tanggap darurat melalui Emergency Response Group (ERG). Sejumlah langkah darurat dilakukan, termasuk pemasangan oil boom dan oil trap untuk mencegah penyebaran minyak lebih luas.
“Perusahaan juga mengaktifkan crisis management team untuk mempercepat proses pemulihan. Kami memahami insiden ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat, sehingga prioritas utama kami adalah keselamatan masyarakat, pekerja, dan lingkungan,” jelas Vanda.
Ia menambahkan, PT Vale akan terus berkoordinasi dengan instansi pemerintah serta para pemangku kepentingan terkait untuk memastikan transparansi informasi dan penanganan sesuai tata kelola tanggap darurat.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya insiden ini. PT Vale berkomitmen menangani situasi dengan penuh tanggung jawab demi melindungi lingkungan dan keselamatan komunitas di sekitar wilayah operasi kami,” tutupnya.(Rif)
