Sektor Riil Tetap Tumbuh, Baperida Ungkap Alasan Ekonomi Luwu Timur Terlihat Menurun

Pemkab Luwu Timur

Data pertumbuhan ekonomi Kabupaten Luwu Timur yang kerap menunjukkan tren penurunan ternyata tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat di lapangan. Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Baperida) Luwu Timur, Kamal Rasyid, saat menjelaskan kondisi perekonomian daerah, Kamis (18/6/2026).

Menurut Kamal, angka pertumbuhan ekonomi Luwu Timur sangat dipengaruhi oleh dominasi sektor pertambangan dalam struktur perekonomian daerah. Kondisi ini membuat setiap penurunan produksi maupun harga komoditas tambang di pasar global langsung berdampak pada capaian pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.

Padahal, kata dia, sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat justru masih menunjukkan pertumbuhan positif.

“Jika sektor pertambangan dikeluarkan dari perhitungan, maka sektor-sektor penopang ekonomi masyarakat seperti pertanian, perkebunan, industri pengolahan, perdagangan, hingga jasa sebenarnya mengalami pertumbuhan yang cukup baik,” jelas Kamal.

Ia menerangkan, struktur ekonomi Luwu Timur berbeda dibandingkan sebagian besar kabupaten lain di Indonesia. Umumnya, daerah lain mengandalkan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan sebagai kontributor utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sementara pertambangan hanya memberikan porsi kecil.

Namun di Luwu Timur, sektor pertambangan justru menjadi penyumbang terbesar perekonomian daerah dengan kontribusi mencapai sekitar 43 persen. Besarnya kontribusi tersebut menyebabkan fluktuasi sektor tambang sangat memengaruhi angka pertumbuhan ekonomi.

Kamal menjelaskan, salah satu faktor utama yang membuat sektor tambang memiliki pengaruh besar adalah nilai transaksi komoditasnya. Komoditas tambang, khususnya nikel, diperdagangkan menggunakan mata uang Dolar Amerika Serikat untuk kebutuhan ekspor dan impor sehingga nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas pertanian yang diperdagangkan dalam Rupiah.

“Perbedaan nilai transaksi itu sangat besar. Harga satu kilogram nikel tentu memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi dibandingkan satu kilogram beras. Karena itu, sedikit saja terjadi penurunan harga atau produksi nikel di pasar internasional, dampaknya langsung terlihat pada data pertumbuhan ekonomi daerah,” paparnya.

Meski demikian, Kamal menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir karena kondisi ekonomi riil di Luwu Timur tetap menunjukkan tren positif. Sektor-sektor seperti pertanian, perkebunan, perdagangan, industri pengolahan, dan jasa disebut terus bergerak serta memberikan kontribusi nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.

Ia berharap masyarakat dapat memahami bahwa angka pertumbuhan ekonomi tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi secara menyeluruh. Fluktuasi yang terjadi lebih banyak dipengaruhi dinamika sektor pertambangan yang memiliki kontribusi sangat besar terhadap struktur ekonomi daerah.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur terus mendorong penguatan sektor-sektor nonpertambangan guna menciptakan struktur ekonomi yang lebih seimbang, tangguh, dan berkelanjutan agar tidak terlalu bergantung pada dinamika pasar komoditas tambang dunia.