LUWU TIMUR – Kehadiran belasan unit dump truck (DT) dari luar daerah untuk mendukung pembangunan Jetty PT IHIP di Desa Harapan, Kecamatan Malili, Luwu Timur, masih menjadi sorotan bagi warga lokal di Lampia.

Proyek pembagunan jetty tersebut dikerjakan oleh Kontraktor Nasional PT WIKA Rekayasa Konstruksi (PT Wika Rekon).

Hal itu Itu dibeberkan oleh salah satu tokoh masyarakat Lampia, Amri, kepada media ini, Jumat 06/10/2026.

Amri mendesak manajemen PT WIKA mengevaluasi penggunaan armada dari luar daerah dan segera memulangkan seluruh DT sekitar 11 unit.

Ia mengungkapkan, sebelumnya masyarakat telah menemui managemen perusahaan dan membahas kehadiran belasan armada itu.

Namun, kesepakatan yang muncul justru berupa tawaran penambahan armada dari pengusaha lokal, bukan memulangkan.

Menurutnya, kesepakatan itu melenceng dari tujuan awal yang menegaskan agar perusahaan memulangkan unit-unit tersebut keluar dari Lampia, Desa Harapan.

Bagi Amri, kesepakatan penambahan armada dari pihak lokal justru merupakan bagian dari kewajiban PT Wika dalam pemberdayaan pengusaha ataupun kontraktor lokal. Namun, hal itu tidak serta-merta menjawab persoalan utama.

Kehadiran unit-unit ini menurut Amri, merupakan cerminan buruknya sisi keterbukaan informasi dan niat perusahaan dalam melibatkan masyarakat yang notabenenya masih mampu dipenuhi oleh kontraktor di Lampia.

“Kami tidak menolak investasi di wilayah kami, namun, disini ada persoalan transparansi informasi dari PT Wika maupun PT IHIP dengan masyarakat, klo bukan masyarakat yang dapat ini unit maka sudah dipastikan perusahaan akan tetap diam” ujarnya.

Selain itu kata Amri, persoalan transparansi PT Wika sebenarnya sudah menjadi sorotan sejak awal pembangunan proyek, termasuk saat pelaksanaan pemancangan pertama (First Piling) sekitar September 2026 yang dikemas dalam kegiatan seremonial.

“Hanya saja, kegiatan itu seperti ditutup-tutupi dan fakta yang ditemukan disitu tidak ada pihak warga, pemerintah desa, kecamatan bahkan kabupaten yang dilibatkan” bebernya.

Menurutnya, minimnya keterbukaan perusahaan yang berinvestasi di lampia sejak awal, dikhawatirkan kedepan menjadi awal munculnya persoalan lain yang tidak memihak ke warga lokal.

Ia mengingatkan agar perusahaan tidak hanya sekedar menjalankan aktivitas di Desa Harapan, tetapi juga membangun komunikasi terbuka dengan masyarakat di sekitar wilayah proyek.(*)

By Arif